Home / Tamu Ekspres

Merintis Usaha dari Nol

Senin, 23 Mei 2016 | 10:45 WITA

Willianto Tanta, Pengusaha Sukses
Sosok pribadi seorang Wilianto Tanta sangat mengesankan sehingga pantaslah ia disebut sebagai sosok pribadi dengan talenta yang mengagumkan.

Bagaimana tidak, Ia adalah salah satu entrepreneur sukses dari Kawasan Timur Indonesia yang mulai merintis karier usahanya benar-benar berangkat dari nol.Dia dilahirkan di Makassar 30 Juni 1963, Wilianto Tanta tumbuh sebagai anak tertua dari keluarga sederhana. Ayahya, Arifin Tanto adalah seorang pengusaha, sedangkan Ibunya, Oei Tjiap Eng adalah seorang istri yang mendedikasikan dirinya untuk kehidupan keluarga.

Memasuki pendidikan awal, Willianto Tanta tercatat sebagai siswa pada Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bali, Makassar. Di dalam pengasuhan yang baik dari kedua orang tuanya, segala kebutuhannya terpenuhi. Setiap pagi, ketika berangkat ke sekolah, Willianto kecil diantar dan kemudian dijemput oleh kendaraan roda tiga (becak) langganannya. Dengan kata lain, masa itu merupakan masa paling dikenang Willianto sebagai masa yang paling membahagiakan saat ia kecil dulu.

Sampai suatu ketika terjadi prahara ekonomi memperoka-porandakan kehidupan keluarga Willianto. Kisahnya bermula ketika Arifin Tanto, ayahnya yang saat itu menjadi pengusaha hasil bumi menjadi korban penipuan rekan bisnisnya. Saat itu, ayahnya pun jatuh bangkrut. Seluruh harta benda yang sekian puluh tahun dikumpulkan dengan usaha dan kerja keras ludes dalam seketika. Inilah masa-masa paling kelam dan paling memprihatinkan dalam kehidupan keluarga Willianto.

Dalam situasi kehidupan yang berada dalam tebing jurang itupun, neneknya yang saat itu bertempat tinggal di Mamuju, sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan dan kini telah menjadi ibu kota Provinsi Sulawesi Barat setelah terjadi pemekaran memanggil keluarga Wilianto untuk pindah ke Mamuju dan memulai hidup baru di sana.

Maka pada tahun 1977, ayah Willianto memutuskan untuk hijrah ke Mamuju dan memboyong seluruh keluarganya, termaksud Willianto kecil, ke sana. Pada saat itu, Willianto kecil harus menerima kenyataan bila ia harus berpisah dengan kawan-kawan sepermainannya. Ia sempat merasa terpukul kala itu. Kesedihan yang dirasakan berusaha menyembunyikan di hadapan orangtuanya dan berjanji dalam hati untuk ikut membantu kesulitan yang dialami orangtuanya.

Setelah hijrah ke Kota Mamuju, mereka kembali memulai hidup dari nol. Karena tak memiliki rumah tempat bernanung, maka orang tua Willianto beserta keluarga terpaksa harus menumpang hidup di rumah neneknya. Apa boleh buat, walaupun kondisi ekonomi yang sangat terbatas, keluarga Willianto dan keluarganya tetap gigih untuk terus berusaha. Saat itu, untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari terpaksa membuka warung kelontong kecil. 
 
Pribadi Kuat dan Mandiri
 
Di Mamuju berbagai usaha pernah dijalankan Wilianto dari usaha kelontongan hingga penyewaan penginapan. Dari usaha warung kelontong itulah keluarga Tanto mulai bangkit kembali dari keterpurukan.

Di Warung kelontong itulah Willianto setiap hari ikut membantu orangtuanya dan turut melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar warungnya dengan menjual berbagai kebutuhan pokok, mulai dari ikan kering, rokok, bensin botolan sampai minyak tanah.

Bermula dari sanalah Wilianto mulai belajar mengembangkan sifat kemandirian yang memang telah mengalir dalam darah keluarganya. Sebagai seorang yang masih berusia belasan tahun, ia telah mendapat kepercayaan penuh dari orangtuanya untuk terjun dan terlibat langsung dalam pengelolaan usaha kecil yang dibangun ayahnya.

Di kota Mamuju ini Wlilianto melanjutkan pendidikan sekolah dasarnya yang sempat terputus. Ia kemudian masuk ke SD Negeri 1 Mamuju. Namun berbeda saat ia di Makassar, Wilianto nyaris tak memiliki waktu untuk bermain. Dini hari, ia harus berangkat ke sekolah yang berjarak kurang lebih 3 kilo meter dari rumahnya.

Jarak ini harus ditempuhnya dengan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan setapak persawahan pergi dan pulang sekolah. Sepulang sekolah Willianto kembali harus bekerja membantu orang tuanya.
 
Bangun Penginapan Hingga Hotel Bintang
 
Wilanto Tanta mulai mengembangkan sayap bisnisnya. Kehidupan keluarganya mulai membaik. Ia dan keluarga nya mulai mengembangkan usaha baru dengan membangun sebuah penginapan sangat sederhana, bernama Marannu, di Kota Mamuju kala itu.

Penginapan ini memang terbilang sangat sederhana karena hanya menempati bangunan rumah panggung semi permanen. Inilah salah satu motivasi mengapa keluarga Tanto tertarik dan mulai berkiprah dalam bisnis jasa perhotelan. Pada masa-masa itu pula, Wilianto menanamkan dalam hatinya untuk suatu kelak memiliki hotel sendiri.
Sifat kemandirian dan talenta bisnis Willianto semakin terbentuk seiring bertambahnya usia.
 
Tempaan pengalaman serta hidup yang pernah dialami keluarganya, menjadikan Willianto menjadi sosok dewasa sebelum waktunya. Setelah menyelesaikan pendidikannya di sekolah dasar, Willianto kemudian meneruskan studinya ke SMP di kota Mamuju.

Kehidupan mempunyai alur pasang surutnya sendiri. Di tengah kehidupan ekonomi keluarganya yang semakin membaik, cobaan kembali datang menerjang. Pada tahun 1980 keluarganya terkena penipuan kembali. Dalam situasi itu, praktis keseimbangan ekonomi mereka jatuh bangkrut. Willianto menyadari bahwa kepercayaan itu adalah sesuatu  hal yang sangat rapuh.

Di tengah kesulitas ekonomi yang dialami keluarganya, Willianto mengambil inisiatif untuk mencoba terjun dalam bisnis konstruksi. Ia meminta bantuan kepada pamannya dengan meminjam perusahaanya dan berbekal itulah Ia mulai merambah dunia jasa konstruksi.

Dengan tekad dan kerja keras pada tahun 1981, berhasil memperoleh pekerjaan pertamanya.Pada tahun 1985, karena perkembangan usaha jasa konstruksi yang dilakoni semakin cerah dan berkembang pesat, maka memutuskan untuk mengibarkan bendera perusahaannya sendiri.

Saat itulah, nama  PT Passokorang (awalnya CV Passokorang), mulai menancapkan eksistensinya sebagai perusahaan jasa konstruksi. Selama kurang lebih 10 tahun sejak William memulai mendapat proyek pertamanya di tahun 1981, dibawah bendera Passokorang telah jauh melejit dengan banyak mengerjakan proyek pembangunan sarana dan prasarana jalan dan jembatan yang menghubungkan dua provinsi.

Seiring dengan melejitnya usaha jasa pelayanan konstruksi PT Passokorang, penginapan Marannu juga semakin berkembang. Bangunan yang dulunya hanya terdiri dari rumah panggung semi permanen, secara perlahan mulai dibenahi menjadi bangunan permanen

Luasnya semakin bertambah dan corak desainnya pun telah dipercantik. Berbekal kesuksesannya dalam mengelola bisnis penginapan ini, Wilianto kemudian menangkap peluang ini bagi kemungkinan cerahnya bisnis perhotelan ini.

Berangkat dari pemikiran itulah, ayah tiga orang anak itu merasa tertantang untuk memasuki dunia bisnis perhotelan lebih luas. Ia menjelma menjadi seorang pengusaha hotel berbintang, dengan nama Hotel Radison di kawasan strategi Pantai Losari.

Pada awal Willianto mengelola hotel ini, Ia masih berbagi saham kepemilikan dengan orang lain. Namun di tahun 1996, setelah hotel ini berganti nama menjadi Hotel Quality, Wilianto menguasai 100 persen saham hotel yang kini beraset Rp70 miliar.

Pada tahun 2004, setelah merasa mampu sukses mengelola sebuah hotel bertaraf bintang tiga, maka Willianto pun bertekad melangkah lebih jauh dengan bercita-cita membangun sebuah hotel berbintang lima.
 
Tekad itulah, kini memiliki berhasil membangunan Hotel Grand Clarion dan beberapa hotel yang tergabung dalam Clarion Group.Maka sejak itu, suami dari Lintje Thomas ini telah menjadi pemilik penginapan di kota Mamuju dan beberapa hotel berbintang di kota Angin Mamiri. (fkr/hms)

 

DATA DIRI:
Nama  : Willianto Tanta
TTL : Makassar, 30 Juni 1963
Ayah : Arifin Tanto
Ibu  : Oei Tjiap Eng
Istri  : Lintje Thomas
Anak  : 1. Jenifer Anastasya Tanta
             2. Edwin Prasetyo Tanta
             3. Andre Prasetyo Tanta
Alamat : PT Passokorang Jalan Landak Baru No. 11 A Makassar
Jabatan:
- Komisaris Utama Makassar Phinisi
- Komisaris Utama Phinisi Sulawesi
- Komisaris Utama PT Phinisi Perintis Makassar
- Komisaris Utama Phinis Fajar Sejahtera

Penulis: Fakra Rauf

Editor: Hafsah Maharani

Berita Terkait