Home / Perbankan Finance

Kinerja Perbankan Membaik

Ahad, 29 Nop 2015 | 18:06 WITA

MAKASSAR, UPEKS.co.id -- Sistem keuangan dan pengembangan akses Keuangan Intermediasi perbankan di Sulsel berjalan dengan baik. Kualitas kredit terjaga pada level aman. Bank Indonesia (BI) menilai kinerja perbankan di Sulsel pada triwulan III  2015 mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Kepala Kantor Perwakilan daerah (KPw) BI Sulsel, Mokhammad Dadi Aryadi menjelaskan, hal ini terpantau dari indikator utama yaitu aset perbankan yang terus tumbuh.

Pada triwulan I 2015 aset perbankan sebesar Rp104,945.000.000, kemudian  tumbuh menjadi Rp108,309.000.000 pada triwulan ke-II. Dan  ditriwulan ke-III kembali naik menjadi Rp112,242.000.000.

Sementara, lanjutnya Dana Pihak Ketiga (DPK) juga terus bertumbuh. Pada triwulan I 2015 DPK tercatat Rp66,420.000.000, kemudian naik menjadi Rp68,867.000.000, dan kembali tumbuh menjadi Rp72,433.000.000 pada triwulan ke-III. Dan kredit atau pembiayaan yang disalurkan ke masyarakat juga naik tercatat triwulan I 2015 Rp85,304.000.000 tumbuh menjadi Rp87,563.000.000 pada triwulan II dan juga kembali tumbuh pada triwulan III menjadi Rp89,911.000.000.

"Dengan Makassar masih menjadi motor pertumbuhan industri perbankan di Sulsel. Risiko kredit juga cenderung masih aman," ujarnya.

Secara kelembagaan, jumlah bank dan kantor bank di Sulsel relatif tidak berubah. Pada triwulan III 2015, diwarnai dengan penghimpunan likuiditas (DPK) yang lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit.

"Intermediasi perbankan di Sulsel berjalan cukup baik, terlihat dari loan to deposit ratio (LDR) sebesar 124,13%,sedikit menurun dari triwulan II 2015 (127,15%)," katanya.

Searah dengan pertumbuhan perbankan umum, kinerja perbankan syariah dan BPR juga menunjukkan akselerasi pada triwulan III 2015. Dari sisi stabilitas sistem keuangan, ketahanan sektor korporasi maupun rumah tangga di Sulsel secara umum masih kuat.

"Hal ini tercermin dari perkembangan penyaluran kredit dan penghimpunan DPK. Namun, penyaluran kredit yang relatif ekspansif kepada korporasi, telah berdampak pada penurunan kualitas kredit, terutama di sektor industri pengolahan," paparnya.

Sementara itu, penyaluran kredit kepada UMKM tumbuh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama triwulan sebelumnya serta bertumbuh secara (qtq) dibanding triwulan sebelumnya masing-masing triwulan I  2015 Rp27,428.000.000, triwulan ke II Rp28,301.000.000 dan  ke III Rp28,501.000.000 sehingga pangsa kredit UMKM terhadap total kredit tetap terjaga di atas 30%.

"Tapi resiko kredit macet atau NPL UMKM juga naik dari 5.21% trwulan I, naik 5.14% triwulan ke II dan ke III menjadi 5.40%," tutupnya (hry).

Penulis: Herman

Editor

Berita Terkait