Home / Utama

Kredit Sektor Perikanan Baru Rp278,2 Miliar

Ahad, 15 Nop 2015 | 21:47 WITA

MAKASSAR, UPEKS.co.id -- Kantor Regional 6 OJK Sulampua mencatat, penyaluran kredit Bank Umum kepada pelaku usaha di sektor perikanan di Sulsel yang dikemas dalam program JARING (Jangkau, Sinergi, dan  Guideline) hingga posisi Agustus 2015 sebesar Rp278,289 miliar atau share 0,32% dari total penyaluran kredit.
 
Posisi Agustus 2015 Kredit Bank umum di Sulsel sebesar Rp88.262 triliun atau naik 10,65 % jika dibandingkan periode yang sama tahun 2014 lalu (yoy). Dan secara kalender tahunan (ytd) tumbuh 5,63%.

Sementara, kredit yang disalurkan ke sektor perikanan pada Agustus 2015 sebesar Rp278,289 miliar tumbuh 16,49% dibandingkan periode yang sama tahun 2014 lalu (yoy) dan secara kalender tahunan (ytd) tumbuh 13,14%. Kendati demikian, share kredit sektor perikanan dari total kredit perbankkan posisi Agustus Rp88,262 triliun masih 0,32 %.

Dari share 0,32% tersebut, sub sektor perikanan yang paling tinggi penyerapan kreditnya (share 46,57%) yakni penangkapan dengan jumlah kredit pada Agustus 2015 sebesar Rp129,591 miliar. Angka tersebut mengalami kenaikan 0,08% secara (yoy) dan tumbuh 4,09% (ytd). Dengan total kredit tahun 2014 lalu tercatat sebesar Rp135,117 milyar.

Disusul, sub sektor Budidaya dengan penyerapan kredit sebesar Rp126,451 milyar posisi Agustus 2015, sementara total penyerapan tahun 2014 lalu sebesar Rp92,677 milyar. Posisi tersebut tumbuh 38,49% (yoy) dan 36,44% (ytd) dengan share terhadap sektor perikanan sebesar 45,44%.
Share 7,99% terhadap sektor perikanan disumbang dari subsektor sarana pendukung yang penyerapan kreditnya sebesar Rp22,247 milyar posisi Agustus 2015. Tumbuh 22,88% secara (yoy) dan 22,41% (ytd).

Direktur Pengawasan Bank, OJK Sulampua, Untung Nugroho, mengatakan, pemerintah terus berupaya mendorong pertumbuhan pelaku usaha di sektor perikanan melalui Program JARING di Sulsel hasil kerjasama OJK, Kementrian kelautan, Perusahaan Asuransi dan KADIN pada Mei 2015 lalu di Takalar. Dari program JARING diharapkan peningkatkan peran industri keuangan dalam pembiayaan pelaku usaha di sektor perikanan.

Kendati demikian, kata Untung, OJK tidak mengatur jumlah penyaluran kredit. Besarnya target penyaluran kredit, suku bunga dan ketentuan agunan ke sektor perikanan diserahkan kepada masing-masing bank yang dituangkan dalam rencana bisnis bank.

"Hanya realisasinya dimonitor oleh OJK. Rencana bisnis bank ini datanya ada di jakarta di OJK Makassar nggak punya datanya," kata Untung.
Lanjut Untung, program JARING hanya merupakan upaya OJK menggenjot peningkatan Kredit yang disalurkan kepada sektor perikanan. Sehingga, sifatnya tidak wajib.
"Diperuntukkan untuk bank yang sudah siap saja," jelasnya.

Deputi Direktur Perizinan Informasi dan Dokumentasi OJK Sulampua, Sabarudin, mengatakan, program JARING bukan program yang bersifat spesifik seperti layaknya kredit KUR sehingga tidak ada ketentuan mengenai jumlah target.

Penyaluran kredit ke Sektor perikanan oleh perbankkan, kata Sabarudin, jenis kreditnya juga ditentukan oleh masing-masing. Tidak menutup kemungkinan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang ditujukan ke sektor produktif di arahkan ke sana.

Dengan menggarap potensi sektor perikanan, tambahnya, diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Sulsel yang luas wilayahnya turut ditopang oleh laut.
"Potensi laut dan ikan kita besar sekali, makanya itu yang harus dioptimalkan," jelasnya.

Diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  mencatat, penyaluran kredit sektor kelautan dan perikanan (KP) melalui program Jaring (Jangkau, Sinergi dan Guideline) telah mencapai 82,09% dari target agregat 8 bank partner yang sebesar Rp5,37 triliun.

"Realisasi penyaluran kredit baru (gross) ke sektor KP oleh bank partner sampai akhir September 2015 ini sudah mencapai Rp4,41 triliun,"ujar Deputi Komisioner Pengawas Perbankan OJK Mulya E. Siregar di Jakarta, Selasa (3/11/2015) lalu.

Menurutnya, dari 8 bank partner, terdapat tiga bank yang telah mencapai dan melebihi target penyaluran kredit gross, yakni Bank Rakyat Indonesia (BRl), Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulselbar.

"BRI mengucurkan Rp2,91 triliun atau 116,76% dari target awal Rp2,5 triliun. BTPN sudah menyalurkan Rp221,9 miliar atau 443,98% dari target Rp50 miliar, BPD Sulselbar menyalurkan Rp32,5 miliar atau 250,67% dari target Rp13 miliar," tukasnya.

Sedangkan 5 bank partner yang belum mencapai target, yakni BNI yang baru menyalurkan 39,39% dari target Rp1 triliun, Bank Mandiri 49,92% dari target Rp1,25 triliun, Danamon 35,77% dari target Rp300 miliar, Bank Permata 27,78% dari target Rp180 miliar dan Bank Bukopin 77% dari target Rp81 miliar.

Sementara, Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel, Sulkaf S Latief menuturkan, kebutuhan masyarakat perikanan sangat tinggi terhadap akses permodalan. Namun, suku bunga yang diharapkan bisa lebih terjangkau lagi.

"Sarana pupuk, benih, pakan dan perbaikan tambak merupakan kebutuhan pembudidaya yang membutuhkan bantuan kredit dari perbankkan," terangnya.
Selain itu, pembudidaya berharap kepada perbankkan untuk pembayaran kredit bisa dilakukan setiap usai melakukan panen atau Yarnen (Bayar Panen).
"Kalau tiap bukan susah, karena terkadang masa panen terjadi beberapa bulan sekali. Inilah keinginannya pembudidaya," ujarnya

Kredit perbankkan ternyata belum bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan. Seperti pengakuan Ketua Kelompok Nelayan Paotere, Rano. Menurutnya, jumlah nelayan yang mengakses pembiayaan melalui bank masih sangat kecil.
"Mereka (nelayan, red) masih sungkan berhubungan dengan orang bank," paparnya.

Olehnya, tambah Rano, sosialisasi dan kunjungan langsung ke lokasi nelayan oleh bank sangat diharapkan agar pemahaman nelayan terhadap pembiayaan bisa lebih baik lagi.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat pertumbuhan ekonomi Sulsel triwulan III-2015 terhadap triwulan II-2015 diwarnai oleh faktor musiman pada lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yang tumbuh ekspansif sebesar 10,80%.

"Pertumbuhan juga terjadi pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebessr 12,49% dan perdagangan besar dan eceran 9,07%," kata Nursam Salam, Kepala BPS Sulsel.

Pertumbuhan lapangan usaha tersebut, kata Nursam, memicu pertumbuhan ekonomi Sulsel sebesar 7,01%. Hal ini disebabkan oleh beberapa laoangan usaha yang memiliki kontribusi dengan sumber pertumbuhan besar seperti pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 2,54% serta perdagangab besar dan eceran (Mobil dan Motor) sebesar 1,25%. (hry/suk)

Penulis: Herman

Editor: Sukawati

Berita Terkait