Home / Utama

Kudeta Ekspansif

Selasa, 26 Jul 2016 | 12:21 WITA

Oleh : Mursalim Nohong Dosen Fak Ekonomi & Bisnis Unhas
Minggu lalu, Dunia khususnya Pemerintah dan Rakyat Turki dikejutkan dengan upaya kudeta militer yang dilancarkan oleh beberapa oknum militer yang merasa tidak puas terhadap pemerintahan yang sah.

Pada aksi brutal tersebut nampaknya militer Turki yang berupaya melakukan Kudeta tidak sepenuhnya mendapatkan dukungan dari kelompok militer lainnya. Dengan kekuatan yang relatif kecil dibandingkan dengan kekuatan lain yang justru berada dalam garis komando Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Kharisma dan ketokohan Erdogen yang mampu membalikkan keadaan melalui people power dengan meminta masyarakatnya untuk berkumpul di lapangan untuk menyatukan semangat dan dukungan terhadap pemerintahan Erdogen yang sah.

Dalam sekejap, masyarakat Turki yang masih pro terhadap sang presiden berkumpul dan kemudian melakukan perlawanan yang berujung pada pelumpuhan gerakan genk militer yang melakukan kudeta.

Pada setiap manuver kudeta bisa dipastikan ada korban tewas di kedua belah pihak termasuk di luar aktor utamanya yakni masyarakat sipil. Menarik untuk dipertanyakan bahwa apakah kudeta memang menjadi dominasi militer yang selama ini dipertontonkan.

Secara etimologi kudeta atau disingkat coup d État atau coup [kop], berarti merobohkan legitimasi atau pukulan terhadap negara adalah sebuah tindakan pembalikan kekuasaan terhadap seseorang yang berwenang dengan cara ilegal dan sering kali bersifat brutal, inkonstitusional berupa "penggambilalihan kekuasaan", "penggulingan kekuasaan" sebuah
 
pemerintahan negara dengan menyerang (strategis, taktis, politis) legitimasi pemerintahan kemudian bermaksud untuk menerima penyerahan kekuasaan dari pemerintahan yang digulingkan.

Kudeta akan sukses bila terlebih dahulu dapat melakukan konsolidasi dalam membangun adanya legitimasi sebagai persetujuan dari rakyat serta telah mendapat dukungan atau partisipasi dari pihak non-militer dan militer (tentara).

Dalam perkembangannya, seharusnya kudeta bukan hanya dominasi militer dan dilakukan dalam rangka pengambilalihan kekuasaan dalam konteks pemerintahan.

Secara subyektif, beberapa kata yang dapat dijadikan sebagai indikator terjadinya sebuah kudeta adalah pengambilalihan kekuasaan, dilakukan secara paksa, cenderung melibatkan kekuasaan atau alat-alat kekuasaan.

Dengan demikian, kudeta sesungguhnya juga terjadi dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Kebijakan sebagian pemerintah daerah atau bahkan pemerintah pusat dalam menstimulus tumbuh suburnya pasar-pasar modern sekelas Alfamart, Indomaret, Alfamidi, dan mart-mart lainnya.

Kehadirannya memang memiliki kontribusi terhadap penyediaan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Akan tetapi, kalau diperhatikan dengan cermat, maka sesungguhnya ada sejumlah persoalan yang ditinggalkan khususnya bagi pelaku bisnis kelas mikro atau UKM lainnya.

Dominasi pasar dan penyebaran cabang di hampir seluruh wilayah komunitas masyarakat secara langsung mempersempit market share pelaku bisnis lainnya yang justru seharusnya mendapatkan perhatian dan dukungan pemerintah.

Penetapan harga yang cenderung “memaksa” sesungguhnya merenggut kebebasan pelanggan untuk melakukan aksi tawar menawar.
 
Bentuk kudeta lainnya sebagaimana dilakonkan oleh kaum kapitalis yang mulai menguasai hajat hidup masyarakat seperti pembangunan dan pengembangan sarana akomodasi hotel yang sebagian besar tidak mempertimbangkan ketersediaan aspek lingkungan seperti drainase (pembuangan air) dan areal untuk para pejalan kaki (Seperti pengembangan wilayah MP dengan penyediaan sarana akomodasi hotel) yang sebagian fasilitasnya telah “mengkudeta“ hak-hak sebagian masyarakat lainnya.

Menjamurnya bangunan atau menara BTS (Base Transceiver Station) yang dijual dengan iming-iming sebagai optimalisasi fasilitas interaksi berbasis ICT. Akan tetapi tidak semua orang menyadari bahwa sesungguhya ada permasalahan besar yang ikut dipancarkan seiring dengan pemancaran dan peningkatan kekuatan signal misalnya.

Bukan saja pertimbangan aspek keamanan dimana biasanya BTS dibangun akan tetapi efek negatif dari transmisi yang dapat menimbulkan penyakit-penyakit tertentu.

Gambaran ini juga pada dasarnya merupakan bentuk lain dari “kudeta” terhadap hak-hak masyarakat untuk tetap bisa hidup sehat yang seharusnya tidak diambil paksa atas nama kemajuan ICT.(*)

Penulis: Mursalim Nohong

Editor

Berita Terkait